Batik indramayu tetap pertahankan corak khasnya



Batik sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Paoman, Indramayu. Masyarakat daerah ini memiliki ketrampilan membatik dari para orang tua mereka secara turun temurun. Ribuan batik indramayu bisa diproduksi, baik batik tulis maupun batik cap yang proses pembuatannya berbeda.

Di Indramayu ada dua jenis batik yang dikenal yakni batik tulis dan batik cap. Harga jual kedua jenis batik itu terpaut jauh karena proses produksinya berbeda. Jika batik cap dibuat dengan cap, batik tulis digambar tangan sehingga pengerjaannya butuh waktu lama, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Dengan perbedaan proses produksi tersebut, sebagian besar produsen batik indramayu lebih banyak membuat batik cap. Batik jenis ini dibuat dengan mencap kain polos dengan corak atau gambar jadi ukuran 20 cm x 20 cm. Setelah itu, kain diwarnai dengan memasukkannya ke dalam cairan warna.

Siti Ruminah Sudiono pemilik toko batik Paoman Arts, lebih banyak memproduksi batik cap dibandingkan denganbatik tulis. “Sebanyak 65 % batik cap, sisanya batik tulis. Batik tulis itu seperti lukisan, sedang batik cap seperti foto,” katanya.

Selain pembeli perseorangan, banyak pula pelanggan toko Siti yang membeli borongan. Yang paling dia ingat adalah ketika melayani pembelian 200 kain batik untuk seragam panitia nikah. “Juga ada pesanan dari kolektor batik,” kata Siti. Pesanan juga membanjir saat ada Rapat Anggota Tahunan (RAT) koperasi.

Selain Pulau Jawa, pesanan juga datang dari Bali, Sumatera, Sulawesi dan Papua, batik tulis bahkan dikirim ke Jepang. Dari seluruh pesanan yang datang, Siti bisa memperoleh omzet lebih dari Rp 300 juta per bulan. Harga untuk batik cap Rp 40.000 – Rp 300.000, sedangkan batik tulis Rp 100.000 sampai Rp 3 juta.

Muhayatun, pengusaha batik merek Bintang Arut juga mendapat banyak pesanan sehingga mampu mengantongi omzet Rp 100 juta per bulan. Bintang Arut mampu memproduksi 500 batik tulis dan 400 batik cap per bulan. Batik tulis dijual dengan harga Rp 50.000 – Rp 300.000 per helai. Sedangkan, batik cap Rp 40.000 – Rp 75.000 per helai dengan ukuran 2,6 meter.

Ia bilang kemampuan batik masyarakat Paoman, Indramayu kebanyakan didapat dari turun-temurun. “Kemampuan batik saya dari ibu, ibu saya dapat dari nenek,” katanya. Meski begitu, dia berupaya mengembangkan beberapa corak batik baru, dengan tetap mengedepankan kekhasan batik indramayu.

Muhayatun rajin ikut pameran termasuk memasang iklan di internet. Berkat promosi tersebut, pesanan batiknya terus mengalir. “Sekarang saya sedang mengerjakan 1.000 syal batik pramuka untuk orang Bandung,” katanya.

Beberapa kota yang sering memesan batik ke dia antara lain: Jakarta, Bandung, Tangerang dan Batam, termasuk penjual di Jatibarang dan pusat niaga Indramayu. “Saya berencana memperluas ke luar Pulau Jawa,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s